Selasa, 25 Juni 2019

Sastra Anak ”Kasih sayang kakek & nenek kepada cucunya”


”Kasih sayang kakek & nenek kepada cucunya”

Di suatu desa terpencil yang jauh dari keramaian kota, tinggalah sepasang kakek dan nenek, kakek itu bernama Baskoro biasa dipanggil kakek Bas dan seorang nenek Inahyah,akrab dipanggil nek Inah pekerjaan mereka sehari-hari hanyalah berkebun. Karena rumah mereka bersampingan dengan ladang yang sangat luas.  Di depan rumahnya nampak pohon rambutan dan durian yang sedang berbuah lebat. Kakek dan nenek tidak hidup berdua melainkan bersama cucunya. Sheina adalah seorang anak yang berusia 8 tahun, anak itu seorang yatim piatu. Ayahnya meninggal sejak ia berusia 5 tahun karena sakit kanker yang menjalar diseluruh tubuhnya. Dan juga ibunya meninggal ketika mempertaruhkan nyawanya untuk melahirkan Sheina.  Namun ketabahan dan kerja keras nenek Inah yang senantiasa mendidik, membesarkan, menasihati dan memperlakukan Sheina layaknya anaknya sendiri. hingga ia menjadi anak terpandai di sekolahannya.

  Sore itu pukul 16.00 nenek Inah dengan ikhlas mengantarkan Sheina ke madrasah tempat ia mengaji, karena jaraknya yang sangat jauh mereka menggunakan sepeda untuk menuju ke madrasah. Jalanan yang sangat terjal dan curam membuat nek Inah tidak tega melihat cucunya berangkat sendiri. Hingga akhirnya nenek lah yang setiap hari mengantar dan menjemput Sheina. Begitu tulus pengorbanan nenek kepada seorang cucu.Sesampainya di madrasah.“nek, aku masuk dulu ya? Nenek tunggu sini dulu.” Kata Sheina.“Iya nak” jawab Nek Inah.Selang satu jam bellpun berbunyi sorak sorai anak-anak menandakan waktu pulang tiba.

Nek Inah pun menggayuh sepeda tuanya dengan harap kelak Sheina menjadi anak yang berhasil sukses kedepannya walaupun keadaan yang sekarang tidak memungkinkan. Sesampainya dirumah langsung kakek Bas mengajak sholat berjamaah karena waktu maghrib sudah tiba. Kakek bas “ayo nek, ajak Sheina sholat berjamaah !” “iya kek,“ jawab nenek sambil mempersiapkan mukenanya.

 Selesai sholat berjamaah keluarga ini selalu membiasakan untuk mengaji dan berdoa bersama dan dilanjutkan makan malam. Karena hidup dalam keadaan pas-pasan bahkan untuk makanpun nek Inah harus pandai berhemat dan mengolahnya agar besok tetap bisa untuk menghidangkan makanan. “nek masak apa hari ini?” Tanya Sheina.‘’ Seperti biasa Nenek masak sayur singkong dan lauk tempe tahu” jawab nek Inah“Sheina bosan nek, makanan nya tetap itu. Pokoknya hari ini aku Gak mau makan”. Kata Sheina. Karena menu setiap hari hanya didapat dari perkebunan samping rumahnya, dan lauknya dalam seminggu hanya itu-itu saja membuat Sheina berontak dan enggan untuk memakan.“ nak jangan seperti itu, syukuri yang ada, nenek sudaah memasakkan untuk kita. Besok kakek janji akan membelikan lauk yang lebih lezat daripada lauk yang sekarang”. Kata Kakek Bas memberi nasehat kepada Sheina.Akhirnya Sheina pun dengan lahap menyantapnya karena diiming-imingi oleh kakek untuk besok membelikan lauk yang lebih enak dan lezat. 

Sehabis makan malam sudah menjadi kewajiban Sheina untuk melaksanakan belajar dan mengerjakan PR yang diberikan oleh gurunya, ia dengan rajin mengerjakan dan mengulang pelajaran yang diajarkan gurunya waktu di sekolah. Dengan wajah ceria dan rasa tau yang tinggi Sheina menulis sesuatu yang belum ia tau, untuk ditanyakan kepada gurunya besok pagi.  Waktu menunjukkan pukul 05.00 pagi, “Nak ayo bangun sudah waktunya solat subuh!” kakek membangunkan Sheina untuk melaksanakan kewajiban sholat subuh berjamaah.“Iya kek”. Jawab Sheina,Seusai sholat subuh Sheina menyiapkan peralatan sekolah dan mengeceknya sembari memasukkan kedalam tasnya, Sedangkan nek Inah yang sudah menghidangkan makanan untuk sarapan tak lupa menyiapkan kotak nasi yang akan dibawa Sheina ke sekolah. Karena perjalanan menuju ke sekolahan ditempuh berpuluh-puluh kilo, jalannya sangat licin juga curam sehingga kakek lah yang setiap hari mengantar Sheina ke sekolah.

Pagi itu SDN Mekar Jaya, tempat Sheina bersekolah sedang merayakan hari lahirnya sekolah yang KE 15 maka dari itu tidak ada jam pelajaran, melainkan perlombaan untuk memeriahkan acara itu. Sheina ditunjuk oleh teman sekelasnya untuk menjadi perwakilan lomba puisi, dengan suara yang sangat lantang, indah,  dan penuh makna ia membawakan puisi yang berjudul ”Rindu Untuk Ayah” sontak para juri dan penonton meneteskan air mata juga memberikan tepuk tangan, karena puisi yang dibawakan penuh dengan penjiwaan. 

Di hari itu juga pengumuman juara diumumkan, Sheina dan teman-teman lain menantikan hasil yang akan di dapat. Ketegangan mulai memuncak ketika juri mengumumkan juara ketiga sampai pertama. Dan pada akhirnya rasa penasaran dan keteganganpun terjawab, ketika nama Sheina dipanggil langsung teman-teman berteriak dan mengucapkan banyak pujian juga selamat kepada Sheina. Sheina lah yang mendapat juara pertama di antara 20 peserta lomba puisi.  Kakek Bas dan nek Inah pun bangga kepada Sheina yang pulang membawa piala yang bertuliskan namanya atas sebuah prestasi yang dicapai. Karena doa dan usaha tidak akan menghianati hasil. Jika ada kemauan pasti  akan ada jalan dan tak lupa berusaha belajar dengan sungguh-sungguh agar cita-cita dapat diraih  kesuksesanpun tercapai.
SEKIAN


Oleh: Septi Anggraini 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar